Sejuta Inspirasi Untuk Ridho Ilahi

Cyber Sabili-Jakarta. Masyarakat harus dibuat mengerti sebelum mereka membeli atau berinvestasi emas. Mereka harus melihat full picture-nya bukan antusiasme sesaat seperti ketika harga emas melonjak selama Agustus–September 2011. Dan bukan harus menjual karena  kepanikan sesaat seperti terjadi antara November–Desember 2011.

Dalam dunia usaha, posisi sesaat tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan trend-nya. Misalnya Anda punya warung sembako yang tahun 2011 lalu omset-nya Rp 50 juta, Angka ini tidak bisa untuk menjelaskan kinerja Anda apakah baik atau buruk. Angka ini baru berarti sesuatu bila misalnya dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya.

Jika tahun 2010 omset Anda Rp 25 juta, berarti kinerja Anda tahun 2011 meningkat luar biasa 100 %. Sebaliknya bila tahun 2010 omset Anda sudah Rp 100 juta, maka usaha Anda sedang mengalami sunset atau sedang tenggelam di tahun 2011. Maka demikian pulalah dalam melihat perkembangan harga emas.

Pada akhir 2011 lalu harga emas perdagangan London ditutup pada angka US$ 1,531.00/Oz. Ini tidak menjelaskan apa-apa jika tidak dilengkapi dengan pembanding dari angka-angka tahun sebelumnya.

Data di Kitco.com menyebutkan, harga emas penutupan London tahun 2010 US$ 1,405.50 dan penutupan lima tahun sebelumnya (2007) US$ 833.75. Jadi harga emas dunia akhir tahun 2011 sejatinya mengalami kenaikan sekitar 9% dibanding tahun sebelumnya dan naik sekitar 84 % dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Dalam rupiah angka-angka ini berbeda karena faktor kurs. Akhir 2011 harga emas di Indonesia sekitar Rp 500,000/gr, dibandingkan dengan akhir 2010 sekitar Rp 400,000/gr dan akhir 2007 sekitar Rp 250,000/gr. Artinya, di Indonesia harga emas mengalami kenaikan 25% setahun terakhir dan 100% dalam lima tahun terakhir.

Apa makna angka-angka itu sesungguhnya? Masyarakat harus melihat emas dalam perspektif jangka panjang. Pemerintah China melihat hal ini dengan baik sehingga bank sentralnya terus menambah persediaan emas disamping mendorong dan mempermudah rakyatnya rame-rame membeli emas.

Tidak demikian dengan negara lain, dengan alasan sendiri-sendiri dan sebagian karena ketidaktahuannya, negara lain mendorong rakyatnya mengakumulasi kekayaan dalam uang kertas. Mereka justru kawatir jika rakyatnya terlalu banyak memegang emas maka mata uang kertas mereka akan jatuh.

Disini pentingnya peran pemerintah, bank sentral dan dunia perbankan untuk melihat emas dari perpekstif jangka panjang dan kepentingan masyarakat untuk bisa bertahan. Khususnya jika krisis mata uang seperti yang kita alami tahun 1997/1998 berulang.

Sejak dua tahun lalu, saya termasuk yang tak setuju dengan akselerasi pembelian emas oleh masyarakat yang didanai dengan uang pinjaman atau gadai, apalagi tidak didukung oleh proses penciptaan nilai tambah. Tapi jika kini direm mendadak oleh otioritas keuangan RI, sebenarnya juga tak tepat. Apalagi, keputusan pengereman ini dilandasi persepsi jangka pendek bahwa harga emas akan nyungsep.

Yang harus dilakukan pemerintah, bank sentral dan dunia perbankan adalah mengedukasi secara benar agar masyarakat tahu betul karakter dan funsgi emas. Mereka harus mementingkan kemampuan masyarakat dalam memutar ekonomi, kemudian juga mampu mempertahankan kemakmurannya dengan baik. Tentunya, di atas kepentingan menjaga nilai mata uang kertas yang costly dan toh terbukti terus mengalami penurunan daya beli, sekuat apapun mempertahankannya.

Fungsi semacam ini diemban oleh Gerai Dinar dalam skala mikro, melalui tulisan dan briefing ke agen-agen baru, bahwa kami selalu mengingatkan bahwa membuat masyarakat paham jauh lebih penting ketimbang membuat masyarakat membeli. Agen tidak kami kenakan target penjualan karena memang bukan menjual emas atau Dinar sebagai target utama kami, tapi membuat masyarakat paham.

Itulah sebabnya tulisan di geraidinar.com lebih banyak mengajak memutar emas atau Dinar dengan membangun jiwa dan semangat entrepreneurship ketimbang membahas Dinar atau emas itu sendiri.

Tulisan mengenai emas seperti tulisan ini hanya dibuat jika dipandang perlu untuk   me-refresh posisi perkembangan terakhir dan memberi perspektif yang lebih luas pada masyarakat.

Harga Emas

Dari waktu kewaktu harga emas berayun seperti bandul jam. Jika posisi jam 6 kita anggap harga rata-rata, posisi jam 5 adalah harga tertinggi dan posisi jam 7 adalah harga terendah. Maka, begitulah harga emas. Kadang menuju angka terendah (ayunan dari arah jam 6 ke jam 7). Kadang menuju angka tertinggi (dari arah jam 6 ke jam 5).

Untuk membantu memahaminnya saya sajikan grafik harga emas dalam Rp/gr yang saya kumpulkan sejak hampir empat tahun lalu di atas. Harga rata-rata untuk mengetahui posisi jam 6-nya saya ambil dari rata-rata bergerak 50 harian atau jika di pasar disebut Daily Moving Average–50 (DMA-50).

Dari grafik harga suatu waktu dan DMA-50 kurang lebih kita bisa memvisualisasikan sedang berada dimana bandul jam saat ini. Saat ini kita berada di sekitar jam 6 karena harga emas lagi berada di kisaran Rp 510,000/gram yang bersamaan dengan itu harga DMA-50 juga berada di kisaran harga ini.

Beberapa pekan terakhir ketika investor emas  dibuat panik karena adanya wacana perubahan kebijakan di bank sentral dan dunia perbankan syariah. Saat itu bandul harga emas berada di arah jam 6-7 (berayun ke bawah).

Waktu-waktu di mana garis biru berada di bawah garis ungu adalah waktu bandul jam berada antara pukul 6-7 atau  sebaliknya. Ketika garis biru di atas garis ungu adalah ketika bandul jam berada antara pukul 6-5 atau sebaliknya.

Seperti ayunan bandul jam yang bergerak cepat  dengan urutan 6-7-6-5-6-7-6-5 dst, maka posisi gerakan cepat ini sebenarnya tidak perlu membuat panik siapapun apalagi kalau sampai menjadi dasar kebijakan.

Dasar suatu kebijakan harus didukung perspektif jangka panjang. Dari grafik di atas misalnya, kita tahu bahwa dari waktu ke waktu memang harga emas terus berayun, tetapi long term trend-nya jelas masih naik.

Meski demikian, betapa masuk akalnya sekalipun trend harga emas jangka panjang, seperti saya buat prediksinya pada tulisan sebelumnya: berdasarkan formula trend polynomial harga emas akan mencapai kisaran di atas Rp 1,000,000/gram pada 2015. Atau, ketika ketika anak Anda sekarang masih kelas 3 SMP sampai nanti kelas 3 SMA. Prediski ini tetaplah prediksi, bisa benar dan bisa juga salah.

Tidak ada yang bisa melihat masa depan dengan kebenaran 100%. Karenanya,  masyarakat harus dibuat mengerti sebelum mereka membeli atau berinvestasi emas. Mereka harus bisa melihat full picture-nya, bukan antusiasme sesaat seperti ketika harga emas melonjak selama Agustus–September 2011. Dan bukan harus menjual karena  kepanikan sesaat seperti terjadi antara November–Desember 2011. Walahu’allam. (Muhaimin Iqbal) 

Sumber: Geraidinar.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: